www.jaton.forumotion.com
Would you like to react to this message? Create an account in a few clicks or log in to continue.
www.jaton.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortalPortal  PencarianPencarian  Latest imagesLatest images  PendaftaranPendaftaran  Login  Dunia  Mualaf  VidioDunia Mualaf Vidio  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  

 

 Pemilu Amerika dan Komunitas Muslim

Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin
Admin


Jumlah posting : 257
Join date : 22.01.08

Pemilu Amerika dan Komunitas Muslim Empty
PostSubyek: Pemilu Amerika dan Komunitas Muslim   Pemilu Amerika dan Komunitas Muslim EmptySun Feb 03 2008, 20:35

Pemilu Amerika dan Komunitas Muslim
Minggu, 03 Pebruari 2008

Semenjak tragedi 11 September umat Islam Amerika menjadi pihak yang tersudut. Apakah Pemilu AS punya arti bagi umat Islam di Amerika?
Pemilu Amerika dan Komunitas Muslim Muslim%20U.S

Oleh: M. Syamsi Ali

[justify]Berbicara tentang komunitas Muslim di Amerika tentu berbicara tentang sesuatu yang selalu hangat untuk dibahas. Sejak kejadian 11 September, komunitas Muslim Amerika menjadi sorotan oleh berbagai kalangan, khususnya kalangan media massa. Oleh karenanya, isu komunitas Muslim di Amerika memang tidak pernah membosankan untuk didiskusikan.
Tragedi 11 September, bagi komunitas Muslim memang menjadi awal mala petaka yang hampir tidak berkesudahan. Tidak saja karena memang tidak sedikit juga dari kalangan umat Islam yang menjadi korbannya.
Tapi yang paling menyakitkan adalah seolah umat ini tidak menjadi bagian dari korban (victims). Bahkan sebaliknya, dituduh atau minimal dipersepsikan secara sistimatis sebagai pelaku, sponsor, atau menyetujui dan senang dengan kewajiban tersebut.
Sejak itu pula komunitas Muslim berada pada posisi “depensive”, dan dari hari ke hari semakin tersudutkan. Tersudutkan oleh berbagai kebijakan pemerintah, tersudutkan oleh pemberitaan media massa, tersudutkan oleh imej dan persepsi masyarakat luas tentang agama mereka, dan bahkan tersudutkan oleh persepsi mereka terhadap diri mereka sendiri. Maksud saya, karena sedemikian dahsyatnya berbagai tuduhan itu, seolah semua itu menjadi kebenaran mutlak yang tidak mungkin di tantang (challenged) , dan karenanya harus diterima apa adanya, termasuk oleh kaum Muslim sendiri.

Afiliasi Partai


Secara umum, masyarakat Muslim di Amerika tidak berafiliasi buta kepada salah satu dari dua partai politik besar Amerika, Demokrat dan Republikan.

Sebagian memang ada yang demokrat, seperti warga Muslim Afro Americans. Namun tidak sedikiti juga yang berafiliasi ke partai Republikan.
Mereka yang memilih berafiliasi dengan partai Demokrat menilai bahwa partai ini dalam sejarahnya memang lebih bersahabat dengan warga minoritas, termasuk di
dalamnya umat Islam. Selain itu, dari perspektif idiologi, kaum Demokrat tidak dibajak oleh idiologi Kristen fundamentalis dalam kebijakan-kebijakan nya.
Di lain pihak, mereka yang memilih untuk berafiliasi dengan partai republikan didorong oleh pandangan-pandangan konservatisme Repubikan dalam berbagai isu sosial, isu aborsi dan perkawinan sejenis misalnya. Bahwa secara moral, idiologi partai Republikan lebih cenderung kepada konsep-konsep agama secara umum.
Namun dapat dipastikan, pada pemilu kali ini mayoritas, jika tidak semuanya, pemilih dari kalangan komunitas Muslim akan memilih calon dari Demokrat.
Sebabnya adalah prustrasi dan perasaan kecewa yang sangat dalam atas apa yang dianggap oleh komunitas Muslim sebagai “pengkhianatan” capres Republikan ketika itu, George W. Bush. Kumpulan suara (block voting) umat Islam di tahun 2000 yang diberikan kepada calon presiden Bush ketika itu, ternyata dikhianati oleh Presiden Bush dengan berbagai kebijakan di kemudian hari yang merugikan umat Islam.
Br. Habib Ahmed adalah Presiden dari ICLI (Islamic Center of Long Island) dan Dr. Wadud Bhuya adalah Presiden dari JMC (Jamaica Muslim Center) adalah contoh hal di atas. Keduanya adalah registered republicans. Tapi keduanya ikut pada acara temu muka dengan wakil-wakil dari capres dari partai Demokrat baru-baru ini dan masing-masing menyatakan mendukung salah satu dari dua calon kuat partai Demokrat itu.
Prustrasi dan kekecewaan masyarakat Muslim kepada pemerintahan Bush berdampak luas kepada pandangan dan sikap mereka dalam pemilu kali ini. Untuk itu, dapat dipastikan bahwa mayoritas, jika tidak semuanya, suara umat Islam akan diberikan kepada calon dari partai Demokrat kali ini. Dalam sebuah pertemuan yang dikelolah oleh American Muslim Democratic Club baru-baru ini yang dihadiri wakil-wakil dari Barack Obama, Hillary Clinton dan John MacCain, hadir beberapa Muslim yang registered Republicans tapi menyatakan akan memilih Demokrat pada pemilihan presiden mendatang.

Penentuan pilihan

Dalam politik ternyata memang ada gap (jurang) antara idealisme dan realita. Idealnya umat Islam harus memiliki calonnya sendiri untuk maju ke perebutan kursi kepresidenan. Sayang, realita mengatakan bahwa hal itu masih belum memungkinkan, dan barangkali justeru akan merugikan komunitas Muslim itu sendiri.
Kerugian yang kita maksud tentunya adalah, selain umat Islam memang belum siap bersatu di bawah satu atap partai politik, juga karena tingkat kesalah pahaman masyarakat kepada agama ini dan pemeluknya sangat tinggi.
Maka, memaksakan diri untuk memiliki calon sendiri sama dengan melakukan sesuatu yang sia-sia. Namun demikian, di sisi lain sebenarnya ada positifnya.
Dengan adanya calon yang beragama Islam, masyarakat Amerika akan melihat agenda sesungguhnya yang ada di benak kaum Muslimin. Bahwa kaum Muslimin dalam melakukan perjuangan tidak ekslusif, tapi sebaliknya, bertujuan untuk memperjuangkan “American interest” (kepentingan Amerika). Dan ini akan membangun “trust” (kepercayaan) di kalangan masyarakat Amerika untuk calon-calon masa depan, sekaligus dapat membangun “self confidence” (percaya diri) umat islam itu sendiri.
Namun secara realita, nampaknya memang belum masanya untuk memajukan calon dari kalangan warga Muslim.
Maka, yang paling realistik untuk dilakukan oleh masyarakat Muslim adalah memilih calon presiden yang paling dekat kepada idelisme dan cita-cita Islam.
Kalau ternyata secara idealisme tidak ada, maka yang dipilih adalah calon yang kecil mudharatnya. Maksud saya adalah calon yang kira-kira tidak menempatkan umat Islam pada sisi yang beseberangan, khususnya dalam konteks perang terhadap terorisme.
Dari semua ini, nampaknya pilihan masyarakat Muslim Amerika kali ini memang menjadi pilihan yang dilematis. Dari seluruh kandidat yang ada, nampaknya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Maka, untuk menentukan pilihannya, komunitas Muslim akan melihat secara teliti siapa di antara kandidat yang paling paling sedikit mudharatnya (akhaf ad dhoraraen).
Sebagaimana disebutkan terdahulu, secara pertimbangan moral sosial, komunitas Muslim cenderung untuk memilih kadindat Republikan yang dinilai lebih konservativ.
Tapi dengan melihat kepada berbagai relaita pahit yang terjadi saat ini, khususnya jika melihat kepada kebijakan luar negeri, dan lebih khusus lagi relasinya dengan perang Timur Tengah dan isu Israel-Palestina, juga termasuk apa yang disebutkan sebagai “war on terrorism” nampak bahwa capres dari partai Demokrat jauh lebih bersahabat.
Kandidat Demokrat dalam berbagai visinya dapat dikatakan lebih “manusiawi” (humanis) dan rasionaol dalam menawarkan berbagai kebijakan luar negerinya.
Sementara capres dari partai Republikan lebih kaku dan dahkan cenderung tidak rasional, dan lebih berbahaya, mereka sangat dipengaruhi oleh idiologi Kristen radikal, Evangelist, yang memang pendukung utama negara Israel.

Hillary atau Barack?

Dengan mundurnya John Edward dari persaingan pencalonan dari partai Demokrat, kini tinggal dua kandidat dari partai ini yang akan dipilih. Dari kedua calon ini, manakah yang lebih cenderung dipilih oleh masyarakat Muslim?

Menimbang-nimbang dua kandidat ini memang cukup rumit. Secara umum, masyarakat Muslim cenderung untuk menjatuhkan pilihannya pada Barack Obama.

Pertimbangannya bukan karena ras, gender, dan bukan pula karena adanya keterkaitan latar belakang keluarga ayah Obama yang Muslim. Tapi memang visi yang diajukan Obama nuansanya lebih menjamin perubahan yang dijanjikan.
Barack Obama memang memiliki daya tarik luar biasa. Umurnya yang masih relative muda, cerdik dan tajam dalam menganalisa berbagai isu yang ada. Walaupun ada kekhawatiran bahwa Obama masih kurang berpengalaman, namun melihat kepada pandangan-pandangan nya yang tajam mengurangi kekhawatiran tersebut. Memang dalam berbagai debat politiknya, isu “experience versus judgment” menjadi isu hangat. Hillary merasa lebih berpengalaman, tapi sebaliknya Obama yakin dengan pandangan-pandangan nya yang lebih akurat.
Selain itu, penentangan Obama kepada perang Iraq dari awal juga memberikan kontribusi yang besar dalam kampanyenya. Sementara Hillary dipaksa oleh situasi untuk menyesali dukungannya kepada presiden Bush untuk menyerang Iraq di masa lalu. Hillay berada pada posisi defensive jika dihadapkan kepada realita bahwa dirinya pernah mendukung penyerangan Iraq dengan mengatakan “kalau saja saya tahu ketika itu bahwa akibatnya seperti saat ini, pasti saya tidak akan memberikan dukungan saya”. Sayang pernyataan itu oleh sebagian dinilai “nasi sudah terlanjur menjadi bubur”.
Hal lain yang menjadikan sebagian besar masyarakat Muslim mendukung Obama adalah sikapnya yang selalu mendahulukan “diplomasi” di atas penyelesaian militer.
Bahkan dalam banyak kesempatan, Obama selalu mengatakan “we must be courageous to speak to our friends and to our enemies”. Keinginan baik untuk membangun komunikasi ini sendiri, termasuk dengan mereka yang dianggap musuh-musuh Amerika seperti Iran, adalah sikap positif. Komunitas Muslim cukup muak dengan kebijakan luar negeri Bush yang selalu mengedepankan aksi militer.

Di lain pihak, memang ada kekhawatiran dari beberapa kalangan bahwa Obama kemungkinan besar tidak akan terpilih. Alasannya, Amerika belum siap dipimpin oleh seseorang non White (selain warga kulit putih). Hal ini mungkin benar, tapi mungkin juga salah. Jika kita melihat kepada kepada demografi pemilih Obama, juga tidak kurang dari warga kulit putih yang memilihnya.
Contoh terdekat barangkali adalah IOWA. Sebaliknya, ada juga kekhawatiran bahwa Amerika hingga kini belum siap dipimpin oleh seorang wanita.
Pada akhirnya memang, calon pemilih sibuk mendiskusikan antara pengalaman Hillary dan ketajaman “pertimbangan” (judgment) Obama. Hillary yang dianggap telah lama melanglang buana di Washington DC, sejak sebagai Ibu Negara hingga sebagai senator terpilih dari negara bagian New York menjadi modal utama dalam pemerintahannya nanti.
Tapi itupun dipertanyakan. Semua tahu bahwa pemerintahan G.W Bush didominasi oleh Wapressnya, Dick Cheney, yang telah melanglang buana dalam struktur pemerintahan Amerika. Toh, berbagai kebijakan yang dihasilkan dapat dikatakan justeru membawa bencana bagi Amerika dan dunia saat ini.

Sebuah keharusan

Akhirnya, siapapun nantinya yang akan dipilih oleh komunitas Muslim, memilih memang menjadi sebuah keharusan dalam konteks masa kini. Perdebatan klasik tentang boleh tidaknya seorang muslim untuk berpartisipasi dalam tatanan politik sekuler, seharusnya dikesampingkan demi kepentingan yang lebih besar.
Sebagaimana disebutkan oleh banyak kalangan, kebijakan-kebijakan pemerintahan G.W. Bush yang sangat dilandasi oleh emosi 11 September, telah kehilangan pertimbangan rasional dan mata nurani. Atas nama keamanan (security), baik domestik maupun internasional, dilahirkan berbagai kebijakan yang secara langsung atau tidak mematikan kapasitas Amerika sebagai negara percontohan, khususnya dalam hal hak-hak dasar manusia (human rights).
Bahkan lebih jauh kebijakan-kebijakan itu membawa dampak negative dalam berbagai aspek kehidupan, baik secara ekonomi maupun sosial. Yang lebih terasa adalah imej Amerika di mata internasional sangat jatuh.
Hal ini menjadi alasan mengapa komunitas Muslim Amerika harus melakukan hak pilihnya. Intinya, dengan melakukan hak pilihnya, komunitas Muslim dapat menjadi pendorong untuk mewujudkan janji-janji politik semua kandidat dalam perubahan. Kata “perubahan” itu sendiri sebenanrnya merupakan “tamparan keras” bagi pemerintahan G.W. Bush yang segera perlu diakhiri.
Dari pandangan Islam sendiri, dan dengan melihat kepada keadaan sekarang ini, memilih calon presiden yang dianggap paling “credible” untuk segera menggantikan administrasi sekarang adalah sebuah keharusan. Minimal ada 4 alasan utama:
Pertama, konsep “Amar ma’ruf dan nahi mungkar”. Ikut dalam memilih calon presiden Amerika yang lebih baik dalam kebijakan-kebijakan nya menjadi perangkap efektif untuk mengurangi atau menghapus berbagai “kemungkaran” dalam berbagai kebijakan pemerintah Amerika saat ini.

Kedua, dalam kaedah usul fikh disebutkan, “apa-apa yang sebuah kewajiban tidak tercapai, juga menjadi sebuah kewajiban” (ma laa yatimmu alwajibu illa bihi fahuwa wajib). Menghentikan berbagai kebijakan yang dianggal tidak adil (zalim) adalah kewajiban. Dan proses politik adalah pendekatan yang paling efektif untuk melakukan itu.
Ketiga, konsep “ta’awun alal birri wattaqwa” (tolong-tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan).
Umat Islam di Amerika harus membangun jaringan kerjasama dengan “the like-minded people” untuk melakukan perubahan administrasi yang tidak menguntungkan. Koalisi dengan mereka dalam memilih calon yang terbaik adalah jalannya.
Keempat, bahwa seorang Muslim di mana saja hidup dia berkewajiban untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat yang “ahsan” (terbaik). Umat Islam di Negara ini, baik imigran maupun terlahir di bumi Amerika, memiliki kewajiban untuk menjadikan Amerika sebagai tempat yang lebih baik bagi semua orang. Presiden adalah orang pertama untuk menjadikan negara ini terbaik, dan oleh karenanya memilih presiden yang baik adalah menjadi sebuah keharusan.
Dengan demikian, tidak diragukan bahwa komunitas Muslim Amerika dapat melakukan peranan besar untuk mewujudkan perubahan yang dijanjikan oleh para kandidat presiden Amerika. Tapi hal ini dapat terwujud jika disadari bahwa bersikap pro aktif, termasuk dalam proses politik di Amerika adalah sebuah kerja mulia, bukan sebaliknya. Tapi mampukah kita menembus “wawasan” berfikir konvensional yang selalu melihat bahwa politik adalah “jahat?”.

Tentu tergantung bagaimana dan dari prospektif mana kita menilai!

New York, 2 Pebruari 2008

Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com
Share this article
Digg!Reddit!Del.icio.us!Google!Live!Facebook!Slashdot!Netscape!Technorati!StumbleUpon!Spurl!Simpy!Newsvine!Blinklist!Furl!Fark!Blogmarks!Yahoo!Netvouz!Ma.gnolia!Tailrank!


][justify]
Kembali Ke Atas Go down
https://jaton.forummotion.com
 
Pemilu Amerika dan Komunitas Muslim
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Mendagri Inggris Akui Peran Besar Komunitas Muslim Bagi Masyarakat Inggris
» Amerika Semakin Tidak Aman
» Muslim Montenegro Bangun Kembali Masjid Kuno Abad ke-14
» Muslim Di Belanda - Vidio
» Non Muslim Kawal Sholat Id

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www.jaton.forumotion.com :: Katagori Berita :: Internasional-
Navigasi: