www.jaton.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Dunia  Mualaf  VidioDunia Mualaf Vidio  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  

Share | 
 

 Sejarah KH. Ahmad Rifa'i

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
rosian
rosian


Jumlah posting : 49
Join date : 22.01.08
Age : 67
Lokasi : Jakarta

PostSubyek: Sejarah KH. Ahmad Rifa'i   Wed Mar 05 2008, 14:33

Sejarah KH. Ahmad Rifa'i

Ditulis Oleh e_dhiem@z

Syaikh Ahmad Rifa’i dilahirkan di desa Tempuran Kabupaten Kendal Jawa Tengah pada tanggal 9 Muharam 1200 Hijriyah bertepatan dengan tahun 1786 Masehi. Ayahnya bernama RKH. Muhammad bin RKH. Abi Suja’ alias Raden Soetjowidjojo, yang menjadi qodli agama di kabupaten tersebut. Ayahnya meninggal ketika Ahmad Rifa’i berumr 6 tahun. Saudara dekatnya yang paling besar ialah Syaikh Al-Asy’ari (suami Nyai Rajiyah binti Muhammad) ulama pendiri/pengasuh pondok pesantren Kaliwungu, mengasuh dan membesarkan dalam pendidikan keagamaan yang benar selama 20 tahun.
Syaikh Ahmad Rifa’i dilahirkan di desa Tempuran Kabupaten Kendal Jawa Tengah pada tanggal 9 Muharam 1200 Hijriyah bertepatan dengan tahun 1786 Masehi. Ayahnya bernama RKH. Muhammad bin RKH. Abi Suja’ alias Raden Soetjowidjojo, yang menjadi qodli agama di kabupaten tersebut. Ayahnya meninggal ketika Ahmad Rifa’i berumr 6 tahun. Saudara dekatnya yang paling besar ialah Syaikh Al-Asy’ari (suami Nyai Rajiyah binti Muhammad) ulama pendiri/pengasuh pondok pesantren Kaliwungu, mengasuh dan membesarkan dalam pendidikan keagamaan yang benar selama 20 tahun.
Pada tahun 1230 H./1816 M., ketika usianya mencapai 30 tahun, Ahmad Rifa’i pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji dan selama 8 tahun mendalami ilmu-ilmu keislaman di bawah guru Syaikh Ahmad Usman dan Syaikh Al Faqih Muhammad ibn Abd Al Azis Al Jaisy, kemudian melanjutkan belajarnya ke Mesir selama 12 tahun, di Kairo beliau belajar kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’i, demikian dilakukan dengan petunjuk dan arahan dari guru-guru agung , dan dua diantara guru-gurunya adalah Syaikh Ibrahim Al Bajuri dan Syaikh Abdurrahman Al Misry.
Setelah 20 tahun belajar di Timur Tengah, kemudian Ahmad Rifa’i pulang ke Indonesia bersama Syaikh Nawawi Banten dan Syaikh Muhammad Kholil Bangkalan Madura. Dan pada waktu ingin kembali ke Indonesia ketiganya duduk berkeliling memusyawarahkan untuk menyatakan menyebarkan ilmu yang telah diperolehnya dalam bentuk tulisan, maka mereka bersepakat untuk mengamalkan kewajiban menyampaikan diantara ketiga ulama tersebut, yaitu:
1. Kewajiban menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar;
2. Menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab kedalam bahasa pribumi untuk mencapai kesuksesan dakwah Islamiyah;
3. Mendirikan pondok-pondok pesantren;
4. Jihad fi sabilillah untuk mengusir penjajah Belanda dari tanah air.
Mereka sepakat bahwa setiap individu wajib mengembangkan ajarannya, pendidikan dan keagamaan. Maka:
• Syaikh Muhammad Kholil dari Bangkalan bertanggung jawab untuk menyusun kitab-kitab tentang tauhid;
• Syaikh Nawawi Banten bertanggung jawab dalam menyusun kitab-kitab mengenai tasawuf; dan
• Syaikh Ahmad Rifa’i diberi tanggung jawab untuk mengarang kitab-kitab fiqh.
Kedua ulama dari ketiganya memutuskan untuk hidup di tanah air, adapun Syeikh Nawawi pada kesempatan lain pergi ke Makkah dan hidup di sana sampai wafatnya di tanah suci tersebut dan dikuburkan di Ma’la, Sedangkan Syaikh Ahmad Rifa’i memilih tinggal di desa Kaliwungu Kendal, agar bisa memusatkan perhatiannya merealisasikan pengajaran ilmu-ilmu keagamaan dan mengarang kitab-kitab tarajumah.
Disamping kesibukannya dalam urusan pengajaran dan mengarang kitab, Syaikh Ahmad Rifa’ bekerja keras menanamkan keislaman khususnya pada murid-muridnya dan pada masyarakat pada umumnya.
Pada waktu itu pemerintah kolonial dan antek-anteknya menjarah kekayaan penduduk dan tanah airnya untuk dibawa ke negeri kincir angin Belanda. Syaikh Ahmad Rifa’i memandang, bahwa mereka itu adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas kesengsaraan yang telah menimpa umat Islam pada waktu itu. Karenanya gerakan Syaikh Ahmad Rifa’i telah menyebabkan harus berhadapan dengan pemerintahan kolonial. Karena takut pengaruhnya meluas maka pemerintah Belanda memanggil Ahmad Rifa’i dan menjebloskannya ke penjara Kendal dan kemudian Semarang.
Setelah keluar dari penjara Syaikh Ahmad Rifa’i pindah ke desa Kalisalak (Kalisasak). Di desa tersebut beliau menikahi gadis yang karimah bernama Sujinah, setelah istri pertamanya, Ummil Umroh meninggal dunia.
Kalisalak adalah desa terpencil yang terletak di kecamatan Limpung kabupaten Batang, Jawa Tengah. Di desa tersebut pertama kali Syaikh Ahmad Rifa’i mendirikan lembaga pondok pesantren yang namanya semakin terkenal dikalangan orang banyak dan berdatangan para murid dari berbagai daerah seperti Kendal, Pekalongan, Wonosobo dan daerah lainnya.
Untuk memperkuat dan melestarikan pengajarannya selama-lamanya, Syaikh Ahmad Rifa’i RA. mempersiapkan murid-muridnya dengan cara khusus seperti pengkaderan untuk masa depan pemikiran dan penggeraknya. Mereka itu orang-orang yang akan mengembangkan kitab-kitab yang telah dikarang oleh Syaikh Ahmad Rifa’i dan mereka di kenal sebagai para penerus [murid generasi pertama]. Diantaranya adalah Kyai Abdul Hamid bin Giwa alias kiai Hadits (Wonosobo), Kyai Abu Hasan (Wonosobo), Kyai Abdul Hadi (Wonosobo), Kyai Abu Ilham (Batang), Kyai Ilham bin Abu Ilham (Batang), Kyai Maufura bin Nawawi (Batang), Kyai Idris bin Abu Ilham (Indramayu), Kyai Abdul Manaf dan Kyai Abdul Qahar (Kendal), Kyai Imam Tsani (Kebumen), Kyai Muharar (Purwareja), Kyai Muhsin (Kendal), Kyai Muhammad Thuba bin Rodam (Kendal) serta Kyai Abu Salim (Pekalongan) dan sejumlah murid lainnya yang masih banyak lagi.
Ketika pemerintah penjajah mengetahui bahwa gerakan syaikh Ahmad Rifa’i lambat laun semakin banyak pengikutnya dari daerah lain, maka pemerintah kolonial menangkap dan mengasingkan Ahmad Rifa’i ke Ambon pada tanggal 16 syawal 1275 Hijriah (19 Mei 1859). Semenjak itulah Syaikh Ahmad Riffa’i menjadi terasing dari khayalak ramai, akan tetapi beliau tidak meninggalkan kegiatannya dalam mengarang kitab sebagai wahana untuk dakwah islamiyah.
Menurut catatan sejarah bahwa beliau mengarang 4 judul kitab dan 60 kebet tanbih dalam bahasa Melayu ketika berdakwah di Maluku yang kitab-kitabnya dikirim ke murid-muridnya di Jawa. Kemudian Syaikh Ahmd Rifa’i di pindah ke kampung Jawa Tondano kabupaten Minahasa, Menado dan meninggal dunia di sana setelah berumur 89 tahun.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
debu jalanan



Jumlah posting : 2
Join date : 04.01.09
Age : 38
Lokasi : kendal

PostSubyek: makamnya?   Sun Jan 04 2009, 00:13

Kalau bisa dikupas tuntas makam beliau, katanya sudah dibangun, ada yang punya dokumentasinya? tolong dikirim ke saya; mutiara_hitam4@yahoo.com
http://rifaimovic.wordpress.com/
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://rifaimovic.wordpress.com/
 
Sejarah KH. Ahmad Rifa'i
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www.jaton.forumotion.com :: KATAGORI UTAMA :: Kpg Jawa Tondano-
Navigasi: