www.jaton.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Dunia  Mualaf  VidioDunia Mualaf Vidio  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  

Share | 
 

 IN MEMORIUM IQBAL ...Sambungan bgn 3

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
rosian
rosian


Jumlah posting : 49
Join date : 22.01.08
Age : 67
Lokasi : Jakarta

PostSubyek: IN MEMORIUM IQBAL ...Sambungan bgn 3   Wed Mar 05 2008, 13:51

IN MEMORIUM IQBAL ...Sambungan bgn 3

Semasa memimpin PB. PMII itulah “ghirah” politik Iqbal mulai mengkristal. Pada periode ini, sebagai Ketua Umum PMII Iqbal sempat membuat merah telinga beberapa pejabat pemerintah Orde Baru. Padahal saat itu mayoritas organisasi kepemudaan tampil lebih sebagai “pak turut” dan semata-mata tunduk pada kemauan pemerintah ketimbang sebagai anak muda yang kritis. Namun Iqbal mendobrak kebekuan itu.
Ketika teIjadi musibah terowongan Mina pada musim haji tahun 1990 yang menewaskan sekitar 1600 jamaah haji asal Indonesia, Iqbal, dalah1 kapasitasnya sebagai Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dengan lantang mengeritik kinerja Departemen Agama dalam urusan penyelenggaraan haji tersebut dan meminta menteri agama Munawir Sadzali (alm) mundur dari jabatannya.
Pernyataan keras PMII itu sebenarnya dilontarkan Endin Soefihara, salah seorang Ketua PB. PMII. Namun Iqbal yang ketika itu berada di Amerika, menyetujuinya dan kemudian mengambil over permasalahannya. Menteri Agama Munawir Sadzali marah besar dan menganggap Iqbal tidak mengerti duduk persoalannya. Tapi tuntutan PMII itu justru disambut positif banyak ormas lain. Bahkan Ikadin, ketika itu, ikut menuntut agar menteri agama Munawir Sjadzali diadili di mahkamah Internasional karena keteledorannya.
Ghirah sebagai aktivis itu semakin menyala ketika Iqbal maju sebagai calon Ketua Umum GP Ansor dalam kongres Ormas pemuda itu di Palembang pada bulan September 1995. Dalam kongres itu, Iqbal yang berasal dari luar Ansor, justru terpilih menjadi Ketua Umum Ansor untuk masa bhakti 1995 - 2000. Terpilihnya Iqbal itu semakin memperkokoh sosoknya sebagai seorang aktivis yang memiliki visi dan konsepsi organisasi yang jelas. Pendaulatan itu sekaligus mempertegas eksistensinya bahwa PMII bukanlah anti klimaks dari (fitrah) kepemimpinannya sebagai aktivis tersebut.
Proses pendaulatan seperti itu dialaminya juga sewaktu ia menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1977. Sebagai mahasiswa IPB yang diterima tanpa test, berbagai jabatan organisasi kemahasiswaan di IPB pernah dipercayakan kepadanya sampai ia akhirnya menamatkan pendidikannya di IPB dan memperoleh gelar dokter hewan pada tahun 1986. Di IPB ia bahkan termasuk mahasiswa yang sangat aktif karena berbagai aktivitas keorganisasian yang diikutinya.
Tiga tahun setelah ia tercatat sebagai niahasiswa IPB, pada tahun 1980 ia dipilih menjadi Ketua Badan Kerohanian Islam Dewan Mahasiswa IPB hingga tahun 1983. Lalu pada tahun 1981 hingga 1982 dia menjadi Ketua Bidang Ekstem Senat Mahasiswa Fak. Kedokteran Hewan IPB. Pada tahun 1982 hingga tahun 1984, dia terpilih menjadi Sekjen Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Pada tahun yang sama ia juga dipilih sebagai Sekjen Majelis Permusyawaratan Mahasiswa IPB. Dan masih sebagai mahasiswa IPB, pada tahun 1981 hingga 1983, ia menjadi Ketua Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bogor yang kemudian membawanya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar PMII masa bhakti 1988-1990.
Di luar kampus, ia pernah pula menjadi Wakil Ketua Majelis Pemuda Indonesia KNPI periode 1988-1990, dan menjadi anggota Pokja Hankam DPP Golkar pada tahun 1989-1993. Sedangkan pada tahun 1994 dia menjadi anggota tim Asistensi DPP Golkar hingga tahun 1997. Fada tahun yang sama dia diangkat pula menjadi Wakil Ketua Pokja Depnaker - RMI.
Namun kesadaran terhadap keunggulan berorganisasi itu rupa-rupanya tak membuat pria yang tidak sempat menyelesaikan tesisnya untuk meraih gelar MM di Institute of Manajemen Jakarta itu berhenti belajar. Seakan tak pernah mau berhenti menimba ilmu, berbagai forum kursus dan penataran dengan antusias pemah pula diikutinya. Sepanjang tahun 1979 hingga 1982 misalnya, Iqbal terus menerus mengikuti berbagai kursus dan Penataran Kepemimpinan Mahasiswa Intra Karnpus. Di luar karnpus, sepanjang tahun yang sarna ia juga mengikuti Kursus dart Penataran Organisasi Kepemudaan Kemahasiswaan Extra Karnpus. Bahkan pada tahun 1986, selain mengikuti penataran penyuluhan Kesehatan bagi Tokoh Pemuda DPP KNPI-Depkes RI, Iqbal pun tanpa sungkan mengikuti penataran Kader KB bagi tokoh Pemuda BKKBN.
Besamya minat Iqbal untuk menimba pengalarnan dan pengetahuan itu bisa dilihat pula ketika pada tahun 1989, sebagai aktivis pemuda, ia mengikuti American Federalism and Youth Leadership di USA sebagai salah seorang delegasi pemuda Indonesia. Lalu pada tahun 1990 ia juga mengiku ti Expo Meeting Asian Youht Council di Seoul, Korea Selatan. Sekembalinya dan Korea, pada tahun itu juga ia langsung mengikuti penataran Tarpadnas Pemuda V yang diselenggarakan kantor Menpora dan Lemhanas. Setahun kemudian, pada tahun 1991, ia melakukan studi perbandingan dan Umroh Pemuda Indonesia di Saudi Arabia. Barulah pada tahun 1992, sebagai implementasi dari keterlibatannya di dunia politik, ia mengikuti penataran juru Kampanye Golkar, di Jakarta.
Menurut ternan-ternan dekatnya, semua aktivitas yang dilakoni Iqbal di luar kampus itu justru semakin menunjukkan betapa besamya minat Iqbal untuk terus mengasah kemampuan intelektualnya. Penuh aktivitas yang tak kenallelah itulah yang membuat Iqbal seakan-akan terlihat aktif dimana-mana “Dia seorang yang tidak pernah minder. Bahkan rasa percaya dirinya begitu kuat,” ujar Prasyad, teman kuliahnya semasa menjadi asisten dosen sosiologi pedesaan di IPB.
Dengan semua pengalamannya itu, tampilnya Iqbal dalam berbagai aktivitas dunia kepemudaan jelaslah bukan karena “kebetulan”. Sebab ia, seperti diceritakan Ismunandar, sudah sejak kecil membangun kemampuan memenej organisasi itu. Ketika masih SD, kata Ismunandar yang kini menjadi anggota DPRD Maluku Utara, Iqbal yang “jago” matematika itu sudah rajin mengumpulkan teman-temannya untuk belajar bersama. Dan bakat kepemimpinan itulah yang, pada perkembangannya kemudian, makin terasah ketika Iqbal dipilih menjadi Ketua OSIS SMA Negeri Ternate hingga kemudian ia menjadi mahasiswa di IPB.
Di luar kemampuan serta keterampilannya berorganisasi, Iqbal juga seorang yang menaruh minat besar terhadap berbagai persoalan kehidupan di sekitarnya, khususnya bila persoalan itu menyangkut kepentingan umat Islam. Komitmennya pada masalah-masalah agama, sosial, politik, ekonomi clan pendidikan, menjadi lebih tegas terlihat saat ia mulai memimpin Gerakan Pemuda Ansor. Komitmen seperti itu, kata Ismunandar,
dimungkinkan karena Iqbal memang hid up di tengah¬tengah keluarga pemeluk Islam yang taat dan sangat kuat menanamkan kepedulian pada persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat di lingkungannya.
Karena itulah, selain tak pernah menolak untuk mengikuti berbagai kegiatan penataran, Iqbal pun tak pernah menolak bila diminta untuk menjadi pemakalah pada berbagai seminar masalah kepemudaan maupun kemahasiswaan. Namun semua aktivitas itu ternyata tidak lantas menghentikan minat Iqbal yang besar pada masalah-masalah spritual. Menurut isterinya, Rahma, pada malam-malam tertentu Iqbal bahkan acap menziarahi makam para ulama dan para Habib. Rahma menuturkan, ia suka diajak Iqbal berziarah ke makam Luar Batang di. Jakarta Utara atau bahkan ke makam para Habib di luar Jakarta. Di makam-makam itu, kata Rahma, biasanya mereka hanya mengaji dan berdoa.
Di luar berbagai aktivitas ekternal seperti itu, Iqbal masih pula menyempatkan diri untuk mengabdikan ilmunya pada orang lain. Walaupun, kata Rahma, pada waktu itu pengabdiannya tersebut lebih karena didorong oleh desakan kebutuhan ekonomi semata-mata. Sebagai mahasiswa IPB yang berasal dari daerah, menurut Rahma, ketika itu Iqbal hidup sangat pas-pasan hingga tidak bisa menutupi kebutuhannya hanya dari mengandalkan kiriman uang hasil patungan keluarganya di Ternate yang cuma Rp. 20.000,- setiap bulannya. Karena itulah Iqbal kemudian memberanikan diri untuk menjadi Asisten Dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam IPB, Bogor. Hal itu dijalaninya sejak tahun 1979 hingga tahun 1983 ketika ia sendiri masih duduk di semester II. Pada tahun 1980 hingga 1983 itu pula, di IPB dia menjadi Asisten Prof. Sayogyo untuk Mata Kuliah Sosiologi Pedesaan. Sedang di Fak. Kedokretan Hewan sendiri, pada tahun 1984 hingga 1986, ia menjadi Asisten Dosen untuk Mata Kuliah Metode Statistika. Di luar kampus, sepanjang tahun 1982 hingga 1984, Iqbal pun bekerja menjadi guru Matematika di SMAN 3 dan SMA Yayasan Pendidikan 17 Bogor.
Semua pekerjaan itu, menurut Rahma, dilakukan Iqbal demi membiayai kuliah dan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Selama tinggal di asrama mahasiswa Ikasari Bogor, Iqbal kata Rahma, bahkan seringkali utang dan menunggak bayar makan pada Ibu Aminah, Ibu asrama mereka. “Karena itulah, sambil terus kuliah Iqbal lalu “nyambi” jadi asisten dosen dan bekerja sebagai guru. matematika,” katanya.
Bahkan setelah menikah dengan Rahma, Iqbal sempat beberapa kali pindah tempat kerja. Uniknya, dari semua pekerjaan itu hanya satu yang berhubungan langsung dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya, yang ketika ia menjadi staf Marketing dan Technical Service di perusahaan pakan ternak, PT. Gold Coin, Jakarta. Tapi pekerjaan itupun hanya dijalaninya selama satu tahun, yakni selama 1986-1987. Selebihnya, sebagai dokter hewan, Iqbal bekerja sebagai tenaga Marketing dan Technical Service di PT. Yunawaty Jakarta hingga tahun 1990. Tapi di perusahaan inicdiapun tidak bertahan lama. Tahun 1992 ia pindah kerja lagi tetapi kali ini sebagai Executive Manager di Pr. Trimuda Jaya Perdana,Jakarta hingga tahun 1993. Hanya setahun di perusahaan tersebut, ia kemudian mendirikan perusahaannya sendiri, yakni PT. Shahnaz Swa Mandiri yang bergerak di bidang ekspedisi dan kontraktor. Sampai akhir hayatnya Iqbal masih tercatat sebagai Direktur Utama di perusahaan yang didirikannya bersama Umarsyah HS dan Rahma Muhammad tersebut.
Bagaimana buruknya kondisi keuangan Iqbal ketika mahasiswa dulu, diceritakan oleh Ismet Al-Hadar. Menurut Ismet, pada tahun 1980, ketika ia baru pulang dari Arab ke Indonesia dalam rangka liburan, Iqbal datang menemuinya. “Dia datang dengan membawa sebuah buku berjudul “Mencari Tuhan” dengan pakaian yang sangat bersih dan celana yang sangat rapi. Tapi pakaian itu ada tambalan-tambalannya. Saya waktu itu mau menangis melihatnya,” tutur Ismet. Namun, tambah Ismet, walaupun dalam kondisi seperti itu, Iqbal tidak memperlihatkan kecengengannya atau nampak frustrasi. “Dia bahkan tidak mengungkapkan sepatah pun ke1uhan untuk menyentuh sentimen saya agar bersimpati padanya,” kisah Ismet. “Kami hanya saling berpelukan dan ngobrol apa saja. Pertemuan itu sendiri hanya berlangsung sebentar. Saya kemudian kembali lagi ke Arab Saudi dan baru benar-benar balik ke Indonesia pada tahun 1982,” ujarnya.
Sejak pulang dari Arab Saudi pada tahun 1982, Ismet mengaku persahabatannya dengan Iqbal intens kembali. Meskipun Iqbal. di Bogor dan dia di Jakarta, menurut Ismet mereka secara rutin melakukan pertemuan. Intensitas persahabatan itu semakin tinggi pada tahun 1984 setelah dia benar-benar menetap di Jakarta. “Kami suka jalan bareng, main bilyar dan bahkan sesekali saya diajaknya untuk ikut mendengarkan dia memberikan ceramah pada anak-anak PMII,” tutur Ismet. Di acara¬acara PMII itulah, kata Ismet lagi, dia melihat keterlibatan Iqbal di bidang intelektual terasa kental. “Ketika itu dia mulai memberikan perhatian yang besar pada masalah-masalah politik keislaman,” kata Ismet.
Sayang, kata Ismet, selama hayatnya Iqbal tidak cukup termotivasi untuk mendukung kecerdasan intelektualnya dengan banyak membaca buku. Menurut Ismet Al-Hadar, itulah salah satu titik lemah Iqbal. “Kalau saja waktu itu Iqbal rajin membaca, saya yakin akan sulit mencari anak muda seusia dia yang memiliki kemampuan intelektualitas yang sebanding dengannya,” tutur Ismet. Namun demikian, kata Ismet, Iqbal adalah seorang yang memiliki ambisi besar untuk meneruskan pendidikannya dan berharap bisa menjadi sesuatu di kemudian hari. Ambisi itu, ujar Ismet, mungkin dimotivasi oleh pendidikan ayah dan pamannya yang begitu keras sehingga membuat semangatnya untuk keluar dari kesulitan hidup menjadi sangat besar. “Bahkan dalam keadaan yang memperihatinkan itu dia berani melanjutkan sekolahnya ke Jawa dan kuliah di IPB. PadahaI, semasa kuliah itu dia hanya menerima kiriman uang sebesar Rp. 20.000 dari keluarganya. Itupun uang hasil patungan keluarganya di Ternate,” kata Ismet.
Apa yang diungkapkan Ismet tersebut dibenarkan Rahma. Namun menurut Rahma bukan karena Iqbal tidak punya minat baca sehingga dia tidak banyak membaca buku. “Dia tidak membaca semata-mata karena waktu itu dia memang tidak memiliki uang untuk membeli buku-buku itu,” ujar Rahma. Bahkan, kata Rahma, semasa kuliah dulu Iqbal baru membaca buku setelah meminjam dari teman-temannya. “Itupun dilakukannya pada tengah malam setelah teman-temannya tidur,” kenang Rahma.
Sebab, kata Rahma lagi, ketika Iqbal mulai punya sedikit uang, justru bukulah yang pertama-tama dicari dan dibelinya. Rahma mengisahkan, ketika tahun 1990 Iqbal ikut rombongan pemuda Indonesia ke Amerika, pulangnya diajustru tidak membawa apa-apa sebagai oleh-oleh untuk anak isterinya. Dia hanya membawa sekoper buku sebagai oleh-oleh. Dan ketika Rahma bertanya untuk apa beli buku sebanyak itu, simaklah apa jawaban Iqbal. “Dulu aku enggak bisa be1i buku, Ama. Baru sekarang inilah saatnya aku bisa beli,” ujar Rahma meniru kan kata-kata Iqbal.
Kepedulian Iqbal pada persoalan-persoalan kemanusiaan, terlebih jika itu menyangkut dunia kemahasiswaan dan kepemudaan memang terasa sangat kental. Ketika tahun 1995 Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi seiuruh Indonesia menyelenggarakan pertemuan di Jogjakarta dan berakhir dengan kisruh, Iqbal secara tegas menyatakan keprihatinannya. “Saya sangat prihatin mengikuti perkembangan dunia kemahasiswaan kita. Bukan saja karena saya menyadari bahwa masa depan kepemimpinan bangsa terletak di tangan mereka, tapi juga karena masyarakat menaruh harapan terlalu besar pada mereka,” katanya.
Keperihatinan Iqbal itu timbul karena ia melihat harapan terhadap kehidupan mahasiswa yang lebih baik di masa depan belum sungguh-sungguh terwujud. Terutama di dalam penciptaan strategi pembinaan generasi muda sehingga dapat melahirkan suasana kondusif yang memungkinkan mahasiswa tampil sebagai calon-calon pemimpin bangsa di masa datahg.
............bersambung 4
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
IN MEMORIUM IQBAL ...Sambungan bgn 3
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www.jaton.forumotion.com :: KATAGORI UTAMA :: Tampilan Utama-
Navigasi: