www.jaton.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Dunia  Mualaf  VidioDunia Mualaf Vidio  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  

Share | 
 

 Makan Nasi Bulu dan Belibis Bakar di Gorontalo

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 257
Join date : 22.01.08

PostSubyek: Makan Nasi Bulu dan Belibis Bakar di Gorontalo   Sun Feb 03 2008, 23:49

Makan Nasi Bulu dan Belibis Bakar di Gorontalo



Asap mengepul-ngepul dari tungku pembakaran Oom Kam, pemilik warung bermerek Boulevard yang terletak di tepi Jalan Boulevard, Kampung Jawa, di tepi kota Limboto, ibu kota Kabupaten Gorontalo.
Begitu kita masuk warung, lantas duduk dan memesan makanan, maka tak lama kemudian aroma daging bakar sudah menggelitiki hidung. Pembakaran daging belibis di Gorontalo menggunakan kulit atau cangkang buah kemiri, karena dipercaya akan menambah rasa gurih daging. Angin sawah meniup sejuk dari arah Danau Limboto, membikin rasa lapar semakin menggebu-gebu.
Sebentar kemudian hidangan tersaji di hadapan kita: sepiring nasi bulu, sepiring daging belibis bakar dengan sambal bumbu. Atau kita bisa memesan milu kuah bugis, atau ingin mencicipi ilabulo yang gurih nikmat.
Nasi bulu ini sebenarnya adalah lemang, seperti yang kita kenal di Jakarta atau di tempat lainnya. Di Gorontalo, namanya nasi buluh (bambu) yang dalam dialek lokal disebut ”bulu”, dan itu tentu bukan berarti rambut yang tumbuh di sekujur tubuh. Tentu saja isinya ketan yang dimasak dalam tabung bambu pakai santan kelapa dan terbungkus daun pisang muda. Nantinya ini yang kita makan sebagai nasi, setelah dipotong-potong sepanjang kurang lebih lima sentimeter.
Atau pesanlah ikan goropa (kerapu) atau ikan nila maupun gabus panggang. Ikan-ikan ini sangat nikmat bila disantap pakai dabu-dabu.
Dabu-dabu adalah sambal khas Sulawesi dan Maluku, dibuat dari cacahan cabe rawit/merah, tomat, bawang merah, air jeruk limau, lalu disiram pakai minyak kelapa panas. Rasanya benar-benar nikmat, bila kita makan dengan daging belibis bakar.
Burung belibis itu sendiri ditangkap penduduk di daerah Danau Limboto.
Di samping warung itu, terdapat kandang, yang dari dalamnya terdengar suara riuh mencicit-cicit. Di kandang itulah calon hidangan kita dikarantina. Burung belibis di Gorontalo jumlahnya masih cukup banyak, tapi penangkapan oleh penduduk semacam itu merisaukan pemerhati masalah lingkungan hidup.
”Sayangnya burung ini masih sulit diternakkan. Sulit berkembang biak di penangkaran, biar pun makanannya mudah,” ujar pemilik warung. Burung belibis dalam bahasa lokal disebut duwiwi, dipakai untuk menjuluki orang yang suka cerewet.
Kemudian sebagai pelengkap hidangan, kita boleh memesan milu kuah bugis, atau biji jagung rebus yang dimasukkan dalam sop konro.

Jagung Siram
Kalau ingin, pilihlah binde biluhuta, yaitu hidangan khas Gorontalo yang lain berupa biji jagung rebus yang dimasak dengan kelapa muda parut, irisan daun bawang, daun kemangi serta udang kering khas yang hanya hidup di Danau Limboto. Hidangan ini dijamin memuaskan semua pihak, karena pengunjung meracik sendiri garam, vetsin, kecap manis atau sambalnya.
Maka tidaklah mengherankan kalau orang di sana mengekspresikan kekagumannya pada masakan ini dengan lagu:..binde biluhuta, ula ulawu lo duwo.....binde biluhuta, orasawa to huwoto..... yang artinya kurang lebih...jagung siram dicampur nike (ikan teri khas Teluk Tomini) jagung siram terasa di gusi...
Dijamin puas. Perlu diketahui, makanan pokok warga Gorontalo dulunya adalah jagung, yang dimasak dalam segala rupa model.

Ilabulo Bakar
Bila masih ingin yang lain, lengkapilah dengan ilabulo, yaitu lemak ayam, baik itu kulit, maupun bagian ekor (brutu, Jw) atau pula telor mudanya, yang dimasak dengan bumbu yang menonjol rasa kayu manisnya, bersama tepung sagu asli. Setelah diracik, adonan lantas digulung pakai daun pisang, dikukus sampai masak kemudian dibakar. Gurihnya boleh dicoba.
Kita juga masih bisa makan nasi biasa yang di sana disebut sebagai nasi atur, yaitu nasi yang disajikan pakai bakul nasi. Boleh percaya boleh tidak, nasi di Gorontalo rasanya enak, pulen, karena beras lokal mereka dari jenis superwin serta memberamo yang terkenal itu.
Nah, kini marilah kita nikmati hidangan khas Gorontalo itu di boulevard dengan nikmat. Biasanya tukang warungnya akan menyetel karaoke untuk menyenangkan pelanggannya. Suaranya riuh rendah. Di daerah itu ada sekitar 20 warung yang membuka usaha sejenis. Mereka buka pada siang hari pada pukul 13.00 dan baru tutup tengah malam.
Boulevard memang terkenal dengan duwiwi bakar atau gorengnya. Sebagai perkenalan dengan Kabupaten Gorontalo, jika kita turun dari pesawat di Bandara Jallaludin Tantu, maka dalam perjalanan menuju ke arah Kota lewat jalan Trans-Sulawesi dan menjelang Limboto, bertemulah kita dengan deretan warung nasi bulu dan belibis bakar itu tadi.
Oom Kam menyatakan terima kasihnya kepada Bupati Gorontalo Hoesa Pakaya, karena boulevard itu diperkenankan untuk dipakai sebagai warung khas belibis bakar. Selain daerah itu memang benar-benar boulevard, penduduk sering mengaitkannya dengan nama desa setempat, Bolihuangga, ditambah kata Park dan lalu disingkat dengan boulevard tadi. Lebih keren, kata Oom Kam.
Dulu, jauh sebelum restoran kentucky merajalela, orang Gorontalo sudah mengenalnya yaitu warung kentaki (kentara kakinya) alias warung bertenda setengah. ”warung kentaki” itu sebagian berkembang di boulevard tadi, tempat nasi bulu belibis bakar.
(aji subela)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jaton.forummotion.com
 
Makan Nasi Bulu dan Belibis Bakar di Gorontalo
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www.jaton.forumotion.com :: KATAGORI UTAMA :: Kpg Jawa Gorontalo-
Navigasi: