www.jaton.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Dunia  Mualaf  VidioDunia Mualaf Vidio  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  

Share | 
 

 Pesta Rakyat di Kelenteng Tua Ban Hing Kiong

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 257
Join date : 22.01.08

PostSubyek: Pesta Rakyat di Kelenteng Tua Ban Hing Kiong   Mon Feb 22 2010, 10:04


Pesta Rakyat di Kelenteng Tua Ban Hing Kiong




Senin, 22 Februari 2010 - Kompas

Pada Minggu (7/2) kesibukan luar biasa tampak di Kelenteng Ban Hing Kiong, Manado, Sulawesi Utara. Puluhan pria dan wanita dewasa berbaju putih, sebagian besar warga keturunan Tionghoa, larut dalam pekerjaan masing-masing, mulai dari mengecat hingga mengepel lantai.

Bersih-bersih kelenteng menjadi kewajiban umat Tri Dharma seminggu menjelang perayaan Imlek 2561 pada 14 Februari.

Kelenteng Ban Hing Kiong yang berada di pusat Kota Manado berbentuk segitiga. Ukuran di depan menyempit kemudian melebar di belakang disimbolkan sebagai jalan menuju kehidupan suci yang harus melalui jalan sempit dan kemudian lapang.

Di atas Kelenteng Ban Hing Kiong terdapat palang berbentuk perahu yang memiliki makna sebagai penyelamat dari kehidupan yang suci. Menurut Jemmy Binsar, pengurus Kelenteng Ban Hing Kiong, kelenteng itu dibangun pada abad ke-16.

Ketuaan kelenteng tetap dipertahankan pada bagian lantai seluas 3 x 3 meter yang tak pernah diubah ataupun diganti dengan keramik. Jemmy Binsar juga menunjuk lantai berupa gundukan campuran semen tidak rata sebagai contoh bagian kelenteng yang telah berusia ratusan tahun.

Di Manado terdapat delapan kelenteng. Kelenteng Ban Hing Kiong menjadi favorit umat Tri Dharma untuk merayakan Imlek.

Perayaan Imlek di Manado menjadi daya tarik wisata. ”Kebaikan selalu mengiringi perayaan Imlek di kelenteng ini,” kata Jemmy. Ban Hing Kiong diartikan sebagai istana yang banyak berkah.

Pada zaman Belanda, perayaan Imlek diikuti perayaan Cap Go Meh atau Goan Siaow konon menjadi pesta bersama. Pemerintah Belanda melonggarkan perayaan Imlek dan Cap Go Meh karena menganggap sebagai hiburan massal alias pesta rakyat.

Menurut Que Eng Tjoen (74), penasihat Kelenteng Ban Hing Kiong, orang-orang dari gunung (Minahasa) sangat tertarik terhadap ritual Cap Go Meh. Warga rela berjalan kaki menuju Manado hanya untuk menyaksikan sejumlah aksi Cap Go Meh. Maklum saat itu transportasi sangat minim. ”Orang gunung jalan kaki dua hari sampai di Manado. Mereka rela tidur di jalan,” katanya.

Apa yang menarik dari perayaan Cap Go Meh yang menyongsong purnama pertama dari tahun baru Imlek? Que Eng Tjoen menyebutkan arak-arakan orang berpawai di jalan sepanjang 5 kilometer sebagai salah satu contoh. Pawai dengan membawa pikulan dan aksi menegangkan, yaitu memotong bagian tubuh, merupakan atraksi yang ditunggu ribuan warga.

Atraksi memotong bagian tubuh dengan benda tajam, seperti pedang, diikuti menusukkan jarum ke kening biasanya dilakukan oleh seseorang yang diberi nama tangsin atau duta Tuhan yang kemasukan roh.

Menurut Que Eng Tjoen, aksi memotong tubuh sebagai lambang dari penyiksaan diri menuju keselamatan. ”Sesungguhnya hidup duniawi adalah penderitaan untuk menuju keselamatan,” katanya.

Di Manado atraksi Cap Go Meh dilakukan di luar kelenteng. Hal itu berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia yang atraksi Cap Go Meh-nya terbatas di dalam lingkungan kelenteng.

Perayaan Cap Go Meh kemudian menjadi inspirasi pelaku wisata di Manado untuk mendatangkan turis dari kawasan Asia. Menurut Bong Chandra, pemilik pesawat carter khusus rute Manado-Taiwan, Manado-Hongkong, dan Manado-Shanghai, setiap perayaan Imlek dan Cap Go Meh, ratusan wisatawan dari Taiwan, Hongkong, dan China datang ke Manado.

Tahun ini Chandra yang mengelola dua pesawat carter memastikan ada 300 orang Taiwan dan Hongkong berlibur Imlek di Manado. Angka ini akan terus bertambah karena turis yang berminat ke Manado cukup banyak.

Ia mengatakan, setiap orang dikenakan tarif Rp 6 juta, termasuk biaya transportasi, menginap selama empat hari, dan mengunjungi obyek wisata.

Akan tetapi, upaya mendongkrak pariwisata Sulawesi Utara menemui banyak kendala, misalnya obyek-obyek wisata tidak tergarap dengan baik oleh instansi terkait. Malah banyak yang rusak sehingga membahayakan pengunjung.

Chandra menunjuk obyek wisata Bukit Kasih di Kawangkoan yang mirip Tembok China dengan 2.300 anak tangga tak terurus lagi. ”Dinding dan anak tangga banyak yang sudah jebol,” katanya.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jaton.forummotion.com
 
Pesta Rakyat di Kelenteng Tua Ban Hing Kiong
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www.jaton.forumotion.com :: Katagori Berita :: Manado & Sulut-
Navigasi: