www.jaton.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Dunia  Mualaf  VidioDunia Mualaf Vidio  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  

Share | 
 

 Lebaran Multikultural

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 257
Join date : 22.01.08

PostSubyek: Lebaran Multikultural   Mon Oct 20 2008, 22:21

Lebaran Multikultural




Seperti burung yang riang pulang ke sarang, kita rayakan kepulangan ke rahim fitri dengan sukacita. Setelah manusia berhasil melewati ujian dalam kremasi Ramadan, pantaslah ia kembali dengan kelapangan jiwa sang pemenang.

Istilah Lebaran dalam kosakata kita mengandung muatan pengertian yang sepadan dengan harapan itu. Berasal dari bahasa Jawa ''lebar'', Lebaran bisa berarti rampung atau luas. Bisa juga dimaknai dalam satu tarikan napas, kepurnaan ujian yang membawa kelapangan. Bahwa hidup bukanlah tanpa kesulitan dan ujian. Tapi kesulitan dan ujian bukanlah kutukan yang mendorong keputusasaan dan kesesatan, melainkan keberhasilan dan kegembiraan yang tertunda.

Dalam sebuah hadis dikatakan, ''Ketahuilah bahwa pertolongan itu ada bersama dengan kesabaran, dan jalan keluar itu selalu beriringan dengan cobaan.'' Seorang penyair Arab menambahkan, ''Betapa banyak jalan keluar yang datang setelah kepahitan, dan betapa banyak kegembiraan datang setelah kesusahan. Siapa yang berbaik sangka pada Pemilik 'Arasy, dia akan memetik manisnya buah yang dipetik dari pepohonan berduri.''

Puasa merupakan wahana aktualisasi diri dalam proses pencapaian kesempurnaan kemanusiaan. Dengan berpuasa, manusia bisa mengatasi gravitasi syahwat fisis yang membuatnya bisa menjadi ''transender''. Transender dalam pengertian Abraham Maslow adalah seseorang yang mampu menerobos kebutuhan dasar dan mencintai ''kebajikan luhur'', keindahan, kesempurnaan, kebenaran, keadilan, dan kesadaran kosmis.

Dengan berpuasa, manusia bisa menerobos mentalitas permukaan (everyday mind) menuju kesadaran yang lebih dalam (deeper mind, ultimate mind). Dengan ini, manusia dapat mentransendensikan diri dari hal-hal personal menuju transpersonal. Lewat kesadaran transpersonal, kehidupan dialami sebagai pola interkoneksi yang tak terputus dari segala kehidupan.

Kesadaran seseorang dan keterlibatannya langsung dengan kehidupan berkembang dari pernik-pernik eksistensi sehari-hari menuju eksistensi kosmik yang lebih luas. Dalam kedaran kosmik, manusia bisa melihat kesalingtergantungan antar-partikularitas: satu dalam semua, semua dalam satu. Kesatuan tidak dapat eksis tanpa perbedaan, mayoritas tak bisa hadir tanpa minoritas.

Dalam kesadaran transpersonal, timbul kesadaran untuk membuka diri penuh cinta untuk yang lain serta ketabahan untuk menghadapi ketidakpastian di tingkat permukaan hidup sehari-hari. Orang-orang dalam kesadaran transpersonal (moksa, makrifat) pada gilirannya akan memiliki kesadaran hakikat. Suatu bentuk kesadaran rabaniyah (pengayoman) yang menenggelamkan egosentrisme demi mencintai dan bersatu dengan segala kemaujudan dan keragaman yang ada. Bahwa semakin besar bukan menjadi bahaya bagi yang lain, malah memberikan ruang hidup bagi keragaman yang lain. Seperti keluasan langit yang mampu memberi ruang bagi matahari, bulan, bintang, dan semua yang terkait dengannya.

Dengan begitu, berpuasa juga menimbulkan semangat untuk berbagi yang bisa menumbuhkan kesuburan dan kesejahteraan warga bumi. Al-Quran melukiskan kebaikan (nafkah) yang dibagikan ibarat sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan setiap bulir berbuah seratus biji (Q.S. 2: 261). Semakin banyak memberi, semakin banyak menerima, sehingga kesuburan dan kesejahteraan negeri bertambah.

Menurut Deepak Chopra, hal ini tejadi karena tubuh dan mental (mind) manusia senantiasa menjalin relasi saling memberi dan menerima dengan semesta. Mencipta, mencintai, dan menumbuhkan menjamin keberlangsungan relasi ini. Semakin banyak kita memberi, semakin terlibat dalam sirkulasi energi semesta; pada gilirannya semakin banyak kita peroleh dalam bentuk cinta, materi, dan ketenteraman.

Maka, jika kita memberi, berilah dengan senang hati. Jika hendak diberkati, berkatilah sesama dengan mengirimkan buntelan pemikiran positif. Jika kita tak punya uang, berikanlah pelayanan. Kita tidak pernah kekurangan dalam apa yang dapat diberikan.

Begitulah, setiap keheningan peribadatan pada akhirnya harus berujung pada pelayanan dan kedamaian warga bumi. Seperti kata Mother Teresa, ''Buah dari keheningan adalah sembahyang, buah dari sembahyang adalah kepercayaan, buah dari kepercayaan adalah kecintaan, buah dari kecintaan adalah pelayanan, dan buah dari pelayanan adalah perdamaian.''

Setelah sebulan berpuasa dan beribadah, marilah kita hikmati kepulangan: pulang ke sumber, pulang ke akar. Dalam kepulangan ini, semua keragaman berasal dari akar yang sama dan akan kembali ke sumber yang sama. Keragaman warga bumi adalah cermin kekayaan Ilahi yang membawa rahmat bagi semesta: agar manusia bisa saling mengenal dan berlomba dalam kebajikan.

Idul Fitri merupakan titik simpul antara tauhidullah (kesatuan ketuhanan) dan tauhidunnas (kesatuaan kemanusiaan). Hari raya Lebaran dalam tradisi Indonesia, yang mewujud dalam karnaval multikultural dengan keterlibatan lintas agama, secara pas merepresentasikan pesan moral Idul Fitri.

Dalam semangat Lebaran, yang minoritas dan mayoritas bisa melumerkan sekat-sekat kompleks diri (minority complex atau majority complex). Semuanya terlibat dalam karnaval, berbagi kebahagiaan dalam semangat penyerbukan silang budaya.

Maka, dalam Idul Fitri kali ini pun, tebarkanlah salam ke segala lapis dan pelosok warga bumi. Cintailah sesama warga bumi, niscaya akan mencintai kita ''Yang Ada di Langit''.


Yudi Latif
Cendekiawan muslim
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jaton.forummotion.com
 
Lebaran Multikultural
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www.jaton.forumotion.com :: Tampilan Pada Portal :: Tampilan Utama-
Navigasi: