www.jaton.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Dunia  Mualaf  VidioDunia Mualaf Vidio  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  

Share | 
 

 KH Kindangen Muhammad Ali, Kiai Mantan Pendeta Dari Minahasa

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 257
Join date : 22.01.08

PostSubyek: KH Kindangen Muhammad Ali, Kiai Mantan Pendeta Dari Minahasa   Fri Sep 26 2008, 21:58

KH Kindangen Muhammad Ali, Kiai Mantan Pendeta Dari Minahasa



Di masa lalu, dia adalah seorang pendeta di Kampung Tendeki, Minahasa, Sulawesi Utara. Ia lahir dari keluarga Protestan. Dalam karirnya, ia telah mengkristenkan sembilan orang Muslim di wilayah misinya.

Sebagai pendeta muda yang gigih, Kindangen dipercaya oleh berbagai gereja. Secara berturut-turut, dia aktif di Gereja Maranatha, Gereja Sidang Jemaat Allah, dan Gereja Pantekosta di Indonesia. Ketika menjadi pendeta di kampung, ia memimpin sekitar 70 keluarga dari beberapa desa di Tendeki. Senjata permurtadan yang dilakukan Kindangen dan aktivis gereja umumnya di wilayah Sulawesi Utara cukup variatif. Mulai dari bantuan makanan, pengobatan, pekerjaan sampai iming-iming jabatan. Bagi para lajang Muslim yang mau memilih agama baru, diiming-imingi perkawinan.

Hasil ‘perjuangan’ mereka memang tidak tanggung-tanggung, banyak Muslim menanggalkan akidahnya. Sumbangan para penginjil terhadap peningkatan jumlah murtadin begitu signifikan. Lihat saja kasus RUU Sistem Pendidikan Nasional, dari bagian utara wilayah pulau Celebes itu sempat muncul suara miring. Di antaranya, seorang pejabat tinggi di wilayah itu sempat mengancam akan memisahkan propinsinya dari pusat, jika RUU tetap disahkan hanya karena dianggap lebih berpihak ke warga Muslim.

Kindangen memang pendeta yang diperhitungkan di usia mudanya. Dari Tendeki, ia dipindahtugaskan di desa Girian Bawah, Kecamatan Bitung. Pria kelahiran 1936 itu tak menyangka bakal terjadi perubahan luar biasanya pada dirinya di tempat tugas barunya. Di sinilah, Allah mengirimkan hidayah menuju kebenaran Islam.

Suatu kali, tepatnya pada 6 Februari 1969, di sebuah rumah, dia menemukan sebentuk buku kecil tanpa sampul. Diejanya tulisan pada cover buku setebal 122 halaman, Kunci Ibadah susunan SA Zainal Abidin, terbitan CV Toha Putera, Semarang. Ia buka tiap lembarnya. Sampai di halaman enam, ia terpikat sesuatu: Rukun Islam. Pada pembahasan bab itu disinggung inti ajaran tauhid, tiada yang disembah kecuali Allah SWT. Pendeta itupun termenung, sembari membandingkan dengan apa yang dia yakini selama ini. Lantas, dirinya pun bertanya ke beberapa orang tentang Islam. Dorongan hidayah begitu hebat, tekad masuk Islam begitu cepat. Tiga hari kemudian, Ahad, 9 Februari 1969 pukul 16.30 WIB, ia mengucapkan syahadatain. Masuknya Kindangen ke dalam Islam dibimbing oleh Habib Salim Hasyim Assegaf , juga disaksikan Cina Muslim, H. Hok Keng yang sekeluarga telah masuk Islam sebelumnya.

Kegigihannya dalam mengawal akidah umat memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah masa lalu dan kondisi lingkungannya. Kaum muslimin di wilayahnya tak bisa dibiarkan terkikis oleh laju pemurtadan yang begitu agresif. Kindangen bercermin dari masa kecilnya yang dididik secara ketat dalam nuansa nasrani di keluarga, selain oleh guru di sekolahnya. Malah, tidak ada orang Islam di kampungnya, kawasan Tendeki. Dalam keadaan seperti itu, keputusan Kindangen memilih Islam mendapati perlawanan begitu besar. Kedua orang tuanya begitu marah, demi melihat anak tunggalnya masuk agama yang selama ini dibencinya. Tidak saja dianggap mencoreng muka keluarga, dirinya pun telah dinilai menjual kebaikan orang tua. Sebagai imbalannya, bahkan orang tuanya menyuruh orang untuk menghilangkan dirinya. Itulah resiko yang sudah diperhitungkan sebelum mengikrarkan dua kalimah syahadah. Ancaman dari pihak gerejapun tak ia ambil pusing. Bahkan, hal itu malah membesarkan keyakinannya, bahwa dirinya tidak akan mati dibunuh oleh siapapun kecuali atas kehendak Allah.

Pilihan terbaiknya membuat Kindangen terdorong untuk hijrah meninggalkan kampung halamannya. Ia menuju Bolaang Mongondow, sekitar 200 kilometer dari Minahasa. Di sanalah ditemukannya saudara-saudara seiman yang mau menaungi dan makin mengukuhkan keyakinannya. Demi mengingat saat jatuh cintanya kepada Islam karena sebuah buku, Kindangen pun membuka usaha penjualan buku-buku Islam. Khidmatnya pada perkembangan Islam, memacunya terus mempelajari berbagai aspek dalam Islam. Karenanya pula, ia kemudian dipercaya menjadi dai dan mubaligh.

Lembaran masa lalu dengan orang tuanya telah ia tutup rapat-rapat. Ia kini lebih memilih mencurahkan kasih sayang dan pendidikan agama bagi putra-putri, buah pernikahannya dengan Karlina Darmapoli. Putri sulungnya adalah Nur’aini Kindangen, kini sudah berumah tangga. Adiknya, Ni’mah Kindangen yang belum lama diwisuda setelah lulus dari Institut Pembinaan Rohani Islam Jakarta. Sedangkan, si bungsu diberinya nama Mahmud Kindangen, belum lama lulus dari madrasah aliyah. Baginya, memasukkan ke lembaga-lembaga pendidikan Islam bagi putra-putrinya adalah bagian dari prinsip. Sikapnya itu diakui Ni’mah, puterinya. Sebagai anak, ia melihat sosok abah-nya sebagai sosok yang baik dan keras dalam pendidikan agama. Namun, kata Ni’mah yang kini tinggal di Jakarta itu, sang ayah memberikan kebebasan dalam memilih kegiatan di luar rumah selama bernilai positif. Selain itu, Kindangen selalu berpesan untuk memelihara diri dari pergaulan, terutama dampak yang mengotori akidah.

Sayyid Basyir, Allahuyarham, seorang ustadz di Bitung meninggalkan kesan tersendiri baginya. Ustadz itu menjelaskan, Islam itu ditegakkan dengan lima waktu, hanya sebelumnya harus bersuci dulu. Karena penjelasan itu, dia makin tertarik pada Islam, apalagi sebelumnya ia memiliki anggapan yang menggelikan soal khitan. Dalam benaknya sebagai orang Nasrani, khitan sama dengan ‘dipotong’. Sayyid Basyir memberinya pemahaman bahwa khitan bagi seorang Muslim adalah bagian dari bersuci. Ia pun terus belajar tentang Islam. Tak segan-segan, bila menemukan kesulitan pemahaman, ia bertanya kepada para ustadz. Ia pun berguru kepada pimpinan al-Khairat, Ustadz Segaf Al-Jufri di Palu, Sulawesi Tengah.

Islam telah menjadi jalan hidupnya. Dakwah pun menjadi agenda hidupnya. Nama Muhammad Ali menggenapi namanya. Boleh dibilang, dulunya ia menjadi ‘tukang’ memurtadkan orang Islam, kini malah menjadi benteng umat. Buktinya, ribuan orang mengikuti jejaknya masuk Islam. Sekitar 50.000 orang telah menjadi binaan dakwahnya. Prestasinya ini diakui rekannya H. Insan Mokoginta. Kristolog yang tinggal di Jakarta ini menunjuk keberhasilan dakwahnya itu tak lepas dari penguasaan berbagai bahasa daerah di Sulawesi Utara.

Semangat menguasai bahasa penduduk berbagai suku itu memang lahir ketika Kindangen sadar akan tugasnya sebagai dai. Tugas dakwah terus memanggil. Belum lama ini menyusul sekitar seribu orang menjadi mad’unya (binaan dakwah, red). Melalui Majelis Taklim Muhtadin, Kiai Haji Kidangen Muhammad Ali dipercaya sebagai tenaga ahli untuk membina para mualaf di tingkat kabupaten dan kecamatan di wilayah Sulawesi Utara. Kendati dulunya sempat akrab dengan kristenisasi, namun sebagai dai, ia memegang firman Allah bahwa tak ada pemaksaan dalam memilih Islam.

Atas prestasinya itu, Insan Mokoginta merasa perlu mengundangnya datang ke Jakarta pada tahun 1980-an. Ketika itu Kindangen dipertemukan dengan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia DR. Anwar Harjono, Allahuyarham. Dirinya tak menduga, kalau pihak Dewan Dakwah memberinya kesempatan naik haji. “Begitu sekali ke Jakarta, ketika kembali ke daerah langsung jadi haji, makanya di sana gempar,” kenang Insan atas kesan rekannya itu.

Kindangen yang juga duduk sebagai Anggota Majelis Ulama Indonesia daerah Bolaang Mongondow ini, juga banyak didengar ajakan-ajakannya oleh kaum Muslimin. Di antaranya, di Kabupaten Bolaang Mongondow, dia menjadi mubaligh di Badan Koordinasi Majelis Taklim yang jamaahnya para ibu sampai tingkat desa-desa. Begitupun, untuk bapak-bapak dan remaja, dirinya bersama para penggerak dakwah lainnya sedang mengusahakan majelis serupa.

Pak Kiai ini tak hanya menyeru ke jalan Allah. Ia pun sanggup berpeluh untuk menyantuni keislaman para mualaf binaannya. Ketika SABILI menemui di rumah H. Insan Mokoginta, beberapa waktu yang lalu, dirinya sedang mengusahakan ratusan potong mukena, buku tuntunan shalat, buku belajar membaca huruf hijaiyah dan sarung. Memang, tak sedikit dari para mualaf masih membutuhkan santunan sarana ibadah, selain pembinaan keislaman.

Sebagai rekan yang kerap terlibat dalam kegiatan dakwah bersama, Insan Mokoginta bersimpati menyekolahkan Ni’mah, Putri kedua Kindangen. Dirinya tak bisa menutup-nutupi kesan atas kesederhanaan hidup Kindangen. Rumahnya saja, ungkap Insan, hanya beratap rumbia, sesuatu yang sudah tak lazim di daerahnya. Di sisi lain, semangat dakwah Kindangen begitu besar, karena memang dakwah telah menjadi pilihan hidupnya.

Hery D. Kurniawan
Sumber Sabili
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jaton.forummotion.com
 
KH Kindangen Muhammad Ali, Kiai Mantan Pendeta Dari Minahasa
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www.jaton.forumotion.com :: Tampilan Pada Portal :: Tampilan Utama-
Navigasi: