www.jaton.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Dunia  Mualaf  VidioDunia Mualaf Vidio  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  

Share | 
 

 Ada Apa dengan Tondano III(1)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 257
Join date : 22.01.08

PostSubyek: Ada Apa dengan Tondano III(1)   Tue Mar 18 2008, 09:59

Ada Apa dengan Tondano III(1)
Oleh: Audy WMR Wuisang

Penulis pernah mengemukakan peringatan bahwa Tondano sedang terancam “tenggelam” secara fisik, kurang lebih 2-3 tahun lalu. Terutama setelah rangkaian bencana yang terjadi di Manado dan sekitarnya serta fakta betapa Danau Tondano dan Sungai Tondano mengalami pendangkalan secara signifikan.

Bagi mereka yang menghabis-kan waktu di Kota Bersejarah itu pada 20-25 tahun lalu, pasti bisa secara telanjang memper-hatikan fakta tersebut. Karena memang, di sisi timur Lapangan Sam Ratulangi, depan Kantor Bupati Minahasa sekarang, adalah aliran Sungai Tondano yang permukaannya naik tajam.
Ancaman tenggelamnya Kota Tondano mungkin terkesan se-buah dramatisasi, tetapi bahwa Kota Tondano Tua, bernama Minawanua yang terletak di De-sa Toulour, sebagian besarnya sudah terendam air. Ancaman itu, dengan demikian bukanlah sebuah kisah fiksi untuk me-narik perhatian orang, tetapi ancaman serius.
Padahal, ancaman lain yang tidak kurang bahayanya ada-lah: “tenggelamnya” kemegahan Kota Tondano yang memiliki se-jarah panjang. Bahkan kota de-ngan sistem penataan modern yang diwariskan penjajah Belanda bagi tanah Minahasa, tetapi yang “terbengkalai” de-ngan banyak alasan. Selain pu-satnya sebagai aktivitas politik tanah Minahasa sudah tergerus oleh sejumlah pemekaran, po-sisi Minahasa sebagai Kota Bu-daya, juga tidaklah mentereng lagi.
Tondano bak kota mati. Begitu gumam para perantau asal Kota Tondano yang pada masa lalu menghabiskan masa kecilnya di kota itu. Dan memanglah be-gitu tampilannya secara fisik. Kota Tondano kalah bersaing dengan Kota Tomohon atau bahkan Kota Bitung yang jauh lebih muda. Kota Tondano ba-gaikan kota bersejarah yang enggan dan malas mendandani dirinya, karena puas dan ber-megah dengan kemegahan ma-sa lalunya.
Setelah kehilangan posisi se-bagai pusat politik Minahasa pasca termekarkannya menjadi 5 Daerah Otonom, Tondano juga perlahan kehilangan po-sisinya sebagai pusat budaya. Bukan apa-apa, karena me-mang mispersepsi soal budaya yang lebih dikedepankan se-bagai aset untuk kepentingan komersial. Bukan sebagai sebuah proses bersama yang melibatkan masa lalu dan pen-capaian masa depan secara sis-temik.
Jangankan menjadi pusat budaya dalam pengertian ko-leksi peninggalan masa lalu (ar-tefak), atau keberadaan sebuah museum budaya. Bahkan seba-gai “play maker” (pengendali) sebuah aktifitas budayapun, sudah tidak terpusat dan ber-pusat di Tondano, sebagaimana yang pernah terjadi pada masa dulu. Dan itu berarti, Tondano memang tidak tersiapkan dan tidak menyiapkan diri mema-suki geliat perubahan yang be-gitu cepat. Bukan saja mengala-mi kemunduran, tetapi bahkan menghadapi ancaman secara fisik atas eksistensinya. Ada apa dengan Tondano jika demikian? Pada akhirnya memang banyak yang berpikir demikian.
Apa Soal?
Pertama, karena berhadapan dengan ancaman fisik, pen-dangkalan Danau Tondano, maka sebaiknya pertama-tama kita memandang ke masalah ini. Bagaimana pemerintah Ka-bupaten Minahasa dan masya-rakat Minahasa memandang dan memperlakukan Danau Tondano? Tidak perlu diung-kapkan lagi, bahwa bagi masya-rakat seputar danau, Danau Tondano atau “Lour” bukan cu-ma sumber kehidupan. Tetapi bahkan menjadi entitas pe-ngikat, dan karenanya, sub etnis ini dinamakan “Toulour” atau “manusia danau”.
Lour adalah panggilan atau penamaan masyarakat sub et-nis Toulour terhadap Danau Tondano kebanggaannya itu. Dan jika memang Lour adalah bagian entitas atau identitas sub etnis ini, maka mustahil mereka berniat merusak atau mendangkalkan Danau Tondano.
Tetapi, kenyataannya, setelah sekian lama, Danau Tondano menghadapi pendangkalan yang berlangsung secara siste-matis. Setelah hutan produktif yang menjadi sumber air dibabat dan berubah menjadi IKIP (sekarang UNIMA), sum-ber mata air besar di ujung Desa Koya, juga disedot habis untuk keperluan PAM. Aneh-nya, sebagian dari air terse-but, bukannya dialirkan di areal yang kembali meresap ke tanah Tondano, tetapi malah dialirkan ke daerah Tomohon. Dan proses ini masih terus berlangsung hingga saat ini, diawali ketika Bupati Minaha-sa ditangani oleh seorang pu-tra Tomohon.(bersambung)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jaton.forummotion.com
 
Ada Apa dengan Tondano III(1)
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www.jaton.forumotion.com :: Katagori Berita :: Tondano & Minahasa-
Navigasi: